Gotong Royong – Things We Do Together

Gotong Royong. Things we do together is an exhibitionmeeting place at the Ujazdowski Castle Centre for Contemporary Art, in which the exhibition and a rich public programme will be intertwined. The idea of community will drive the films, objects, documentation and public activities offered by the artists,activists and educators from places around the world.

04_dsc1676_gotong_royong_2048px_auto_1400x800

The exhibitions title, Gotong royong, means “common task in Indonesian. It is a method of work practiced in Indonesia, which can be described as ‘things we do together as we learn about them by acting together. This title pays homage to the practices of informal arts education and social selforganization that are specific to Indonesian culture, but also common under various names in many other places in the world. It is both the subject and the work method used in the exhibitionmeeting at the Ujazdowski Castle Centre for Contemporary Art.

Activities aimed not at creating objects (although this, too, may happen)but at bringing out passions and experiences are presented and triggered during the exhibition and the equally important public programme running parallel to it.

The exhibition brings together cooperationbased actions coming from the visual and performing arts. As they work in Ursus, Wrocław, Amazonia,a village in West Java or the outskirts of New Orleans, the participants use art as a communitybuilding tool.

The exhibition space  features documentation, cinema, photographs,collections of educational objects and materials explaining the methodologies used by the invited artists and groups. Many of the authors of the exhibition will visit Warsaw and engage in public activities. The exhibition can thus become a first step in creating relationships that go beyond the formula of visiting an exhibition.

04_dsc1841_gotong_royong_2048px_auto_1400x800

One of the invited participants is Tainá Azeredo, a Brazilian curator and activist who has spent, together with the artist Claudio Bueno the past two years in the grassroots organizing of the school in the Amazon rainforest. The project called Intervalo-Escola (Time for a break) is being put into effect through the cooperation of local artists, people and administrative entities.

The Gotong Royong. Things we do together exhibition will also form an academy of young artists, activists and researchers, an informal working group called Intervalo-Escola, which will use some of the methods developed by Tainá Azeredo, Claudio Bueno and their colleagues. Intervalo-Escola is the heart of the exhibition, the place where meetings and workshops take place. Their outcomes will continually seep out into the exhibitions public programme.

U–jazdowski residents Irwan Ahmett and Tita Salina from Jakarta will show films based on their work with marginalized communities on Java.Jatiwangi Art Factory, a collective of culture creators and animators founded ten years ago in the small town of Jatisura, is also Indonesian. It runs a programme in which the local population can become involved in the visual arts, music, art education and planning community projects.The Polish artists Marta Frank, Robert Kuśmirowski and Maciej Siuda also joined in the collectives endeavours. The outcomes of their cooperation are presented in the exhibition.

Projekt Ursus Zakłady by Jaśmina Wójcik, Igor Stokfiszewski and associates,activists and creators of the grassroots revitalization of Warsaws Ursus district will be one of the Polish components of Gotong Royong. Things we do together. This multiyear projects presentation in the exhibition will include materials about the making of the fulllength film about the people who live in Ursus. It will be accompanied by choreography workshops with Rafał Urbacki and music workshops with Dominik Strycharski.

Clara Ianni, a Brazilian artist and an Ujazdowski Castle resident, works with various social groups to develop their identity and memory. Her video installation tells about police repression in pacifying demonstrations in São Paulo. Claras performance and participation activities in public space, Otwarty pomnik (Open Monument) asks questions about the possibility and necessity of representing collective memory and will be based on the data from a poll the artist conducted in Warsaw. Edyta Jarząb, activist and cultural animator ,will join forces with visitors and the IntervaloEscola academy to lead workshops for vocal groups. Imani Jacqueline Brown, a New Orleans researcher and activist,will host a series of public discussions titled Kaleidoscope conversations.Some findings from the groups meetings will be shown in the exhibition space. Vincent Rumahloine, artist and activist, is engaged in fighting against the stigmatization of social groups such as people who are HIVpositive in Bandung, Indonesia. Objects created by these groups will be included in the exhibition, and Vincent will create a new project for the public programme with the IntervaloEscola group.

During their residency at Ujazdowski Castle, artists of the Ukrainian Open Place collective, Yulia Kosterieva and Yurij Kruchak , worked with the Ukrainian and Belarusian communities of migrant workers in Warsaw. The stories they heard generated a series of posters, a performance script and poetry activities within the exhibition space. They will develop a poeticgraphic workshop to serve as a space for meetings, discussions and cooperation during the exhibition.

Gotong Royong. Things we do together also includes film programmes.Films made by the Forum Lenteng collective from Jakarta will paint a panorama of todays Indonesian society and discuss its complex internal relations. Forum Lenteng brings together artists, filmmakers and performers who both participate in and document life in a dozen different spots in the Indonesian archipelago. One of its members, Otty Widasari,will use workshops to demonstrate its work methods. A special film programme made in cooperation with the Short Waves Festival is a selection of the best recent shorts with subjects related to the themes of the exhibition.

>> More info here. 

(c) Photo by Bartosz Górka

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Call to Action - Cultural Fund

Selama hampir dua dekade, Jatiwangi art Factory telah membuktikan bahwa seni memiliki vitalitas untuk mengubah suatu daerah, membangun kapasitas masyarakat, dan membawa denyut nadi komunitas lokal untuk beresonansi di panggung global. Kini, kami mengundang Anda untuk turut berkontribusi menjaga keberlangsungan gerakan ini melalui inisiatif penggalangan dana yang dirancang khusus guna mendukung kerja-kerja kebudayaan yang berdampak luas, baik bagi pengembangan individu maupun dalam upaya mengangkat martabat wilayah. Lebih dari sekadar donasi finansial, dukungan Anda merupakan energi penggerak yang akan secara langsung mensejahterakan ekosistem kreatif warga, memperkuat praktik kerja komunitas, serta menjadikan kegiatan budaya sebagai fondasi paling nyata dalam merawat dan merajut masa depan bersama di wilayah kita.

You can also make a donation via our bank account below:

Bank BJB Account Number: 0118751892100
SWIFT Code: PDJBIDJA
Account Name: Jatiwangi art Factory

↓↓↓Upcoming Project↓↓↓

Tahun Tanah 2027

“Tahun Tanah” adalah penamaan tahun yang berfungsi sebagai tanda keberadaan budaya tanah di Jatiwangi. Dimulai pada tahun 2012 ketika acara Rampak Genteng pertama kali diadakan, perayaan ini terus dirayakan setiap tiga tahun sekali sebagai tradisi baru bagi Jatiwangi. Sepanjang tahun, kita merayakan tanah bukan hanya sebagai material, tetapi sebagai sumber ruang hidup bersama. Sepanjang Tahun Tanah, kita mengadakan berbagai kegiatan, termasuk:
1. Triennale Terakota;
2. Jatiwangi Cup (kompetisi binaraga untuk pekerja genteng);
3. perayaan ritual baru Bakar Berjamaah;
4. Rampak Genteng, sebuah perayaan membunyikan tanah bersama ribuan orang yang menandakan kedaulatan budaya Jatiwangi sebagai pemilik budaya tanah.

Program-program yang diinisiasi selama Tahun Tanah telah menunjukkan capaian yang signifikan. Sebagai contoh, perhelatan Triennale Terracotta berhasil mencetak agen-agen penggerak baru dalam industri keramik. Momentum ini juga mendorong terbentuknya sejumlah studio independen yang berfokus menjadi laboratorium material tanah, mendedikasikan praktiknya untuk mengeksplorasi dan menghasilkan inovasi bentuk serta diversifikasi produk terakota. Lebih jauh lagi, para agen penggerak ini tidak hanya berperan dalam membangun ekosistem diversifikasi produk, tetapi juga berhasil mendiseminasikan pengetahuan mereka melalui kegiatan pengajaran di berbagai universitas, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Program Jatiwangi Cup telah berhasil menumbuhkan rasa percaya diri warga desa yang berprofesi sebagai pekerja pabrik genteng. Mereka kini berani tampil dengan bangga di hadapan publik, baik melalui program televisi maupun acara berskala nasional, untuk memamerkan kebugaran fisik dan otot kekar yang terbentuk secara natural dari kerja keras keseharian mereka. Penonjolan fisik ini sama sekali tidak dimaksudkan sebagai perayaan maskulinitas semata, melainkan sebagai sebuah pernyataan kuat mengenai keberdayaan komunitas budaya di Jatiwangi. Lebih jauh lagi, letupan semangat dan rasa percaya diri komunal ini turut mendorong terbentuknya sebuah grup musik bernama The Talawengkar, yang secara khusus mendedikasikan karyanya untuk mengeksplorasi inovasi bunyi melalui instrumen musik berbasis keramik.

Ritual baru “Bakar Berjamaah”, yang menjadi bagian integral dari rangkaian perayaan agung Rampak Genteng, diinisiasi sebagai medium partisipatif untuk mengonsolidasikan kesepakatan bersama di antara warga. Lebih dari sekadar prosesi komunal yang merayakan elemen pembentuk kehidupan mereka, praktik sosial ini merupakan sebuah deklarasi kolektif yang tegas atas eksistensi suatu wilayah yang terus bertahan di tengah disrupsi dan arus perubahan lanskap sosio-ekonomi perdesaan. Menghadapi dinamika transformasi dan industrialisasi wilayah yang kian masif, ritual ini secara sadar difungsikan sebagai ruang negosiasi yang kritis bagi masyarakat untuk merumuskan, merebut kembali, dan mempertahankan identitas kultural daerah mereka. Melalui tindakan kolaboratif ini, praktik artistik melampaui sekadar peristiwa estetis, melainkan menjelma menjadi sebuah gerakan yang mengikat solidaritas warga, merawat ingatan kolektif, dan memperkuat posisi tawar komunitas dalam menentukan arah masa depan ruang hidup mereka bersama.

Selain itu, Rampak Genteng juga turut mendorong lahirnya berbagai grup musik yang menciptakan instrumen mereka sendiri dari bahan keramik. Beberapa di antaranya adalah Hanyaterra dan Lair, yang kini telah menggelar tur musik melintasi Asia, Eropa, Inggris, hingga benua Amerika.

You can also make a donation via our bank account below:

Bank BJB Account Number: 0118751892100
SWIFT Code: PDJBIDJA
Account Name: Jatiwangi art Factory

Magister Program of Reka Budaya

Program Magister Reka Budaya, yang diselenggarakan bekerja sama dengan Sekolah Pascasarjana ISBI di bawah Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni, bertujuan untuk menjembatani beragam pendekatan artistik untuk bereksperimen dengan kemungkinan baru dalam perencanaan wilayah berbasis budaya. Pada dasarnya, program ini secara sengaja memilih praktik partisipatif langsung sebagai mode utama produksi pengetahuan, di mana seni secara sadar dimaksudkan sebagai praktik kolaborasi. Melalui pedagogi partisipatif ini, kami mengeksplorasi sejauh mana praktik artistik dapat beroperasi dalam lanskap ruang sosial, memposisikan seni sebagai media negosiasi kritis untuk membangkitkan subjektivitas warga, merangsang imajinasi kolektif, dan bertindak sebagai katalis untuk perumusan kebijakan dari bawah ke atas. Untuk mengakar konsep-konsep ini dalam realitas, kurikulum sangat terkait dengan ritme harian masyarakat di kawasan industri dan ruang interaktif organik Pabrik Seni Jatiwangi, mulai dari forum diskusi warga, ritual komunal, dan jamuan musik hingga festival budaya dan intervensi taktis di ruang perencanaan partisipatif formal seperti Musrenbang. Lingkungan pembelajaran transformatif ini terbuka secara inklusif bagi beragam latar belakang, termasuk seniman, kurator, anggota kolektif seni, aktivis, pengorganisir komunitas, dan pegawai negeri sipil, terutama mereka yang berdedikasi untuk mengarusutamakan budaya dalam kerangka pembangunan, serta individu yang ingin memperdalam dan mematangkan praktik kolaboratif mereka dalam ekosistem kolektif.

Program pendidikan ini lahir dari beragam praktik kerja JaF sebagai ruang produksi pengetahuan. Melalui praktik tersebut, selama ini JaF telah banyak diundang untuk mengajar sebagai dosen tamu di sejumlah kampus ternama, baik di dalam maupun luar negeri. Saat ini praktik kerja JaF ingin di formulasikan menjadi kurikulum belajar formal.

You can also make a donation via our bank account below:

Bank BJB Account Number: 0118751892100
SWIFT Code: PDJBIDJA
Account Name: Jatiwangi art Factory

Dana Hibah Budaya Daerah

Dana Hibah Budaya Daerah mewakili upaya kita untuk bersama-sama merayakan budaya sebagai jalan untuk merayakan keberadaan kita bersama dan terhubung kembali satu sama lain. Lebih dari sekadar inisiatif dukungan finansial, hibah ini merupakan komitmen kolektif untuk secara mandiri memelihara ekosistem sosial dan artistik di wilayah kita. Melalui inisiatif ini, kami bertujuan untuk memastikan bahwa praktik budaya terus berfungsi sebagai ruang pertemuan yang aman dan inklusif, menghidupkan kembali semangat kerja sama timbal balik, memperkuat otonomi warga, dan mengamankan keberlanjutan ikatan solidaritas kita untuk generasi mendatang. Dana ini akan digunakan secara khusus untuk mendukung program-program yang berasal dari ekosistem seni dan budaya di Kabupaten Majalengka.

You can also make a donation via our bank account below:

Bank BJB Account Number: 0118751892100
SWIFT Code: PDJBIDJA
Account Name: Jatiwangi art Factory