Kelas Reka Budaya membuka rangkaian pembelajarannya dengan sebuah pertanyaan mendasar: apa yang ingin dikerjakan, persoalan apa yang ingin ditanggapi, dan kemungkinan apa yang ingin dibuka melalui praktik artistik dan budaya? Pada hari pertama, kelas dimulai dengan sesi mendengarkan. Para partisipan diajak berbagi mengenai ketertarikan, pengalaman, serta proyek yang mereka bayangkan untuk dikembangkan selama mengikuti program Reka Budaya.
Sesi ini menjadi ruang untuk mengenali beragam latar belakang dan gagasan yang dibawa setiap partisipan. Alih-alih langsung menetapkan hasil akhir, proses pembelajaran diawali dengan memberi ruang bagi setiap gagasan untuk disampaikan, dipertukarkan, dan dipertajam. Mendengarkan menjadi bagian penting dari proses tersebut, sekaligus langkah awal untuk memahami konteks dan kemungkinan yang dapat tumbuh dari pertemuan berbagai perspektif.

















Pada hari kedua, pembelajaran berlanjut dengan mendiskusikan mengapa gagasan Reka Budaya menjadi penting bersama Arief Yudi Rahman, Ismal Muntaha, dan Ginggi Syarif Hasyim. Di tengah perubahan sosial, ekonomi, dan ekologis yang terus berlangsung, bagaimana praktik artistik dan budaya dapat mengambil peran lebih jauh dari sekadar menghasilkan karya atau menyelenggarakan kegiatan? Bagaimana praktik tersebut dapat berangkat dari persoalan nyata, membangun hubungan dengan berbagai pihak, serta turut membuka kemungkinan perubahan dalam kehidupan bersama?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk untuk memahami Reka Budaya sebagai upaya menciptakan daya ucap baru, daya gugah baru, dan daya tawar baru melalui praktik artistik dan budaya. Daya ucap berkaitan dengan kemampuan merumuskan persoalan dan menyampaikan perspektif melalui cara-cara yang berbeda. Daya gugah berhubungan dengan kemampuan membangun perhatian, menggerakkan percakapan, dan menumbuhkan keterlibatan. Sementara itu, daya tawar menyangkut kemampuan praktik budaya untuk mengambil bagian dalam negosiasi, memperluas ruang partisipasi, dan turut memengaruhi bagaimana persoalan serta masa depan dibicarakan bersama.




Dengan demikian, Reka Budaya tidak hanya berangkat dari pertanyaan tentang karya apa yang akan dihasilkan, tetapi juga tentang mengapa sebuah praktik perlu dilakukan, hubungan seperti apa yang ingin dibangun, dan bagaimana praktik tersebut dapat memiliki arti dan dampak nyata bagi lingkungan tempatnya tumbuh.
Memasuki hari ketiga dan keempat, para partisipan mulai memetakan gagasan dan rencana proyek masing-masing melalui dua pendekatan metodologis. Regenerative Design Methodology bersama Yulia Sugandi menjadi kerangka untuk membaca proyek dalam hubungannya dengan konteks, ekosistem, dan relasi yang menopang kehidupan bersama. Sementara itu, Art in Action Research Methodology bersama Dominique Lämmli mengajak partisipan menghubungkan praktik artistik dengan proses penyelidikan, tindakan, dan refleksi.


Melalui Regenerative Design Methodology, partisipan diajak untuk tidak hanya melihat persoalan yang ingin ditangani, tetapi juga mengenali potensi, sumber daya, hubungan, dan kapasitas yang telah ada dalam konteks proyek mereka. Perancangan praktik dengan demikian dapat dimulai dari pemahaman terhadap kondisi yang ada, termasuk bagaimana sebuah proyek berpotensi merawat, memperkuat, atau membangun kembali hubungan antara manusia, lingkungan, dan kehidupan bersama.


Sementara itu, melalui Art in Action Research Methodology, partisipan diajak melihat praktik artistik sebagai bagian dari proses belajar dan penyelidikan yang berlangsung melalui tindakan. Gagasan proyek dapat dikembangkan dengan mengamati konteks, menguji kemungkinan, melibatkan pihak-pihak terkait, serta merefleksikan pengalaman yang muncul selama proses. Praktik artistik tidak hanya menjadi cara untuk menyampaikan gagasan yang telah selesai dirumuskan, tetapi juga jalan untuk menemukan pengetahuan dan memahami persoalan melalui keterlibatan langsung.


Kedua pendekatan ini memberikan pijakan bagi partisipan untuk menerjemahkan ketertarikan awal menjadi rencana proyek yang lebih terarah, sekaligus mempertimbangkan keterkaitan antara gagasan, konteks, proses, dan kemungkinan dampaknya. Pemetaan yang dilakukan bukan semata-mata penyusunan rencana kerja, melainkan juga kesempatan untuk mempertanyakan kembali asumsi, mempertajam tujuan, dan menemukan cara kerja yang sesuai dengan situasi masing-masing.
Empat hari pertama Kelas Reka Budaya memperlihatkan alur pembelajaran yang bergerak dari mendengarkan, mendiskusikan alasan di balik sebuah praktik, hingga memetakan kemungkinan proyek. Perjalanan ini memberi ruang bagi para partisipan untuk tidak hanya merumuskan apa yang ingin mereka kerjakan, tetapi juga memahami mengapa proyek tersebut penting, dengan siapa proyek itu dapat dijalankan, serta bagaimana praktik artistik dan budaya dapat berhubungan dengan persoalan yang lebih luas.
Pada akhirnya, Kelas Reka Budaya merupakan ruang untuk merawat dan mengembangkan gagasan melalui perjumpaan, percakapan, dan percobaan bersama. Berangkat dari ketertarikan yang beragam, para partisipan mulai menyusun pijakan bagi proyek-proyek yang berakar pada konteks masing-masing. Proses ini sekaligus membuka kemungkinan bagi praktik artistik dan budaya untuk menemukan cara baru dalam menyampaikan gagasan, menggerakkan keterlibatan, dan mengambil bagian dalam merancang perubahan.
sumber foto oleh Alma Noka Alesandro
One Response
Pembelajaran kontekstual yang menuntun semua peserta memvalidasi dirinya, dimulai dari star keberangkatannya menuju ruang lokalnya, sampai menjeneratif realita keruangan lokalnya itu sendiri.